DPP Badan Seni Budaya Kawaru Legend Kiwal Garuda Hitam , mendukung penuh Kegiatan Mangkasara' Molulo 2026

Budaya 09 Jul 2026 01:28 3 min read 218 views By Redaksi Celebesnesia Makassar
DPP Badan Seni Budaya Kawaru Legend Kiwal Garuda Hitam , mendukung penuh Kegiatan Mangkasara' Molulo 2026
DPP Badan Seni Budaya Kawaru Legend Kiwal Garuda Hitam , mendukung penuh Kegiatan Mangkasara' Molulo 2026

CELEBESNESIA.COM ,MAKASSAR , DPP Badan Seni Budaya Kawaru Legend Kiwal Garuda Hitam , mendukung penuh Kegiatan Mangkasara' Molulo 2026 Agustus Nanti.

Pernyataan dukungan ini disampaikan langsung oleh sang Ketua DPP, Noer Tayeb Dg. Pasang. Ia menegaskan bahwa kegiatan Mangkasara’ Molulo merupakan momentum emas yang luar biasa untuk menjadi wadah silaturahmi sekaligus ruang kolaborasi nyata antara kebudayaan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.

Lebih lanjut, Noer Tayeb menyatakan bahwa organisasinya siap bergerak bersama dan bersinergi dengan Angkatan Muda Bumi Anoa Sulawesi Tenggara (AMBA SULTRA). Kolaborasi ini berfokus pada misi besar untuk melestarikan serta mempromosikan kekayaan budaya Nusantara, khususnya tradisi-tradisi luhur yang ada di tanah Sulawesi.

Menautkan Bumi Sawerigading dan Bumi Anoa

Festival yang bernilai sejarah tinggi ini dirancang untuk merekatkan kembali hubungan kultural antara wilayah yang dijuluki Bumi Sawerigading (Sulawesi Selatan) dan Bumi Anoa (Sulawesi Tenggara). Rangkaian acara akan resmi dimulai pada 28 Agustus 2026 dengan agenda silaturahmi para Tokoh Adat Nusantara yang bertempat di Istana Kerajaan Gowa. Setelah itu, puncak kemeriahan festival akan digelar di kawasan ikonik Pantai Losari Makassar pada keesokan harinya.

Lahirnya festival ini merupakan inisiatif strategis dari Ketua Umum AMBA SULTRA, Stenly Diover, S.T. Program ini menjadi bagian fundamental dari "Bumi Anoa Nusantara Festival" yang berjalan di bawah naungan Yayasan AMBA SULTRA.

Stenly menjelaskan bahwa nama "Mangkasara’ Molulo" dipilih bukan tanpa alasan, melainkan karena memiliki muatan filosofi moral yang sangat dalam bagi generasi muda. Kata "Mangkasara’" merepresentasikan karakter ideal pemuda Sulawesi yang berjiwa besar, berani, jujur, dan selalu berpihak pada kebenaran. Sementara itu, "Molulo" merupakan simbol sakral dari tarian persatuan yang menggambarkan semangat gotong royong serta kebersamaan kolektif.

Melalui spirit "Jong Celebes Indonesia", festival ini diharapkan mampu memicu kembali gelora semangat persatuan masyarakat dari ujung selatan di Kepulauan Selayar hingga titik paling utara di Miangas.

Sinergi Lintas Sektor Berstandar Internasional

Festival "Mangkasara’ Molulo 2026" dipastikan akan tampil beda karena diproyeksikan naik kelas ke panggung internasional. Selain melibatkan para pegiat budaya lokal dari Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, acara ini juga akan dihadiri oleh delegasi internasional dari Malaysia yang tergabung dalam International Nusantara Cultural Forum (INCF).

Langkah besar membawa narasi budaya lokal ke level global ini berhasil diwujudkan berkat sinergi kuat dari berbagai lembaga strategis. Pihak-pihak yang turut menyokong acara ini antara lain Forum Masyarakat Adat Konawe Mekongga Indonesia (FORMAKOM INDONESIA), Lembaga Adat Kerajaan Gowa, Divisi Mabes Kiwal Garuda Hitam MPW Sulawesi Selatan, Badan Kontak Organisasi Pemuda Mahasiswa Indonesia Sulawesi Tenggara (BAKOPMIST), Lembaga Pakarena Pusaka Leluhur Nusantara, serta didukung oleh tim Redaksi Sorotnews Indonesia dan Redaksi Tulisan Pers Sulsel.

Mahakarya "Delapan Pilar Budaya Sulawesi"

Sajian utama yang paling dinantikan oleh masyarakat dalam festival ini adalah pagelaran mahakarya berjudul "Delapan Pilar Budaya Sulawesi". Panggung ini akan menjadi ruang dialog kultural yang sangat harmonis karena mempertemukan empat pilar budaya utama dari Bumi Anoa—yaitu suku Tolaki, Buton, Muna, dan Moronene—dengan empat pilar budaya utama dari Bumi Sawerigading yaitu suku Makassar, Bugis, Mandar, dan Toraja.

Dengan keterlibatan aktif para budayawan terkemuka, "Mangkasara’ Molulo 2026" digadang-gadang akan menjadi mercusuar baru bagi upaya pelestarian tradisi. Melalui festival berskala besar ini, pemuda Sulawesi ingin membuktikan diri bahwa mereka siap menjadi garda terdepan yang tidak hanya bangga akan akar sejarahnya, tetapi juga adaptif dan cakap dalam menjaga marwah tradisi di tengah tantangan zaman modern.

Recent Articles