Sinergi Kebudayaan Lintas Provinsi, AMBA SULTRA dan Lembaga Adat Kerajaan Gowa Siap Sukseskan Mangkasara’ Molulo 2026
CELEBESNESIA.COM , MAKASSAR – Sebuah momentum bersejarah dalam upaya pemajuan kebudayaan di Pulau Sulawesi siap dideklarasikan. Angkatan Muda Bumi Anoa Sulawesi Tenggara (AMBA SULTRA) resmi menjalin kerja sama strategis dengan Lembaga Adat Kerajaan Gowa Sulawesi Selatan untuk menyelenggarakan event kolaborasi budaya lintas daerah berskala besar bertajuk "Mangkasara’ Molulo 2026".
Komitmen kuat untuk menyukseskan festival akbar ini disepakati langsung dalam komunikasi lintas kelembagaan antara Ketua Umum AMBA SULTRA, Stenly Diover, S.T., bersama Putra Mahkota Kerajaan Gowa, Andi Muhammad Imam Daeng Situju Andi Kumala Idjo Daeng Sila Karaenta Lembang Parang Sultan Malikul Said Batara Gowa III.
Mangkasara' Molulo , gelaran yang sarat akan nilai historis ini juga mendapat dukungan penuh dari lebih dari 30 organisasi masyarakat di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. Mulai dari organisasi masyarakat adat, organisasi kemahasiswaan, organisasi kepemudaan, hingga berbagai komunitas pelestarian budaya.
Menautkan Kembali Bumi Sawerigading dan Bumi Anoa
Festival ini dirancang khusus sebagai jembatan emosional dan kultural untuk merekatkan kembali hubungan sejarah antara wilayah Bumi Sawerigading (Sulawesi Selatan) dan Bumi Anoa (Sulawesi Tenggara). Lahirnya festival ini merupakan inisiatif strategis dari Stenly Diover yang menempatkan program ini sebagai bagian fundamental dari agenda "Bumi Anoa Nusantara Festival" di bawah naungan Yayasan AMBA SULTRA.
Rangkaian acara dijadwalkan akan resmi dimulai pada 28 Agustus 2026, diawali dengan agenda silaturahmi para Tokoh Adat Nusantara yang bertempat di Istana Kerajaan Gowa. Keesokan harinya, puncak kemeriahan festival akan menyapa masyarakat luas di kawasan ikonik Pantai Losari, Makassar.
Stenly Diover menjelaskan bahwa nama "Mangkasara’ Molulo" dipilih karena memiliki muatan filosofi moral yang sangat dalam bagi generasi muda. Kata "Mangkasara’" merepresentasikan karakter ideal pemuda Sulawesi yang berjiwa besar, berani, jujur, dan selalu berpihak pada kebenaran. Sementara "Molulo" merupakan simbol sakral dari tarian persatuan yang menggambarkan semangat gotong royong serta kebersamaan kolektif. Melalui spirit "Jong Celebes Indonesia", festival ini diharapkan mampu memicu kembali gelora persatuan dari ujung selatan di Kepulauan Selayar hingga titik paling utara di Miangas.
Sinergi Lintas Sektor Berstandar Internasional
Festival "Mangkasara’ Molulo 2026" dipastikan tampil beda karena diproyeksikan langsung untuk naik kelas ke panggung internasional. Selain melibatkan pegiat budaya lokal, acara ini akan dihadiri oleh delegasi internasional dari Malaysia yang tergabung dalam International Nusantara Cultural Forum (INCF).
Langkah besar membawa narasi budaya lokal ke level global ini berhasil diwujudkan berkat sinergi kuat dari berbagai lembaga strategis. Pihak-pihak yang turut menyokong acara ini antara lain Forum Masyarakat Adat Konawe Mekongga Indonesia (FORMAKOM INDONESIA), Lembaga Adat Kerajaan Gowa, Divisi Mabes Kiwal Garuda Hitam MPW Sulawesi Selatan, Badan Kontak Organisasi Pemuda Mahasiswa Indonesia Sulawesi Tenggara (BAKOPMIST), dan Lembaga Pakarena Pusaka Leluhur Nusantara. Sinergi ini juga diperkuat oleh dukungan publikasi dari tim Redaksi Sorotnews Indonesia dan Redaksi Tulisan Pers Sulsel.
Mahakarya "Delapan Pilar Budaya Sulawesi"
Sajian utama yang paling dinantikan dalam festival ini adalah pagelaran mahakarya berjudul "Delapan Pilar Budaya Sulawesi". Panggung ini akan menjadi ruang dialog kultural yang sangat harmonis karena mempertemukan empat pilar budaya utama dari Bumi Anoa yaitu suku Tolaki, Buton, Muna, dan Moronene dengan empat pilar budaya utama dari Bumi Sawerigading yaitu suku Makassar, Bugis, Mandar, dan Toraja.
Dengan keterlibatan aktif para budayawan terkemuka, "Mangkasara’ Molulo 2026" digadang-gadang akan menjadi mercusuar baru bagi upaya pelestarian tradisi. Melalui festival berskala besar ini, pemuda Sulawesi ingin membuktikan diri bahwa mereka siap menjadi garda terdepan yang tidak hanya bangga akan akar sejarahnya, tetapi juga adaptif dan cakap dalam menjaga marwah tradisi di tengah tantangan zaman modern.