Empat Tahun Menjaga Api Liangkabori, Perjuangan Kepala Desa Berbuah Kunjungan Menteri Kebudayaan
CELEBESNESIA.COM , MUNA -Festival Liangkabori bukanlah sebuah peristiwa yang lahir dalam semalam. Di balik gaungnya yang kini mulai dikenal hingga tingkat nasional, terdapat perjalanan panjang yang dibangun oleh semangat masyarakat, pemuda, pemerintah daerah, dan terutama dedikasi seorang kepala desa yang memilih untuk terus percaya pada potensi besar kampung halamannya sendiri.
Adalah La Ode Farlin, SH, Kepala Desa Liangkabori, yang sejak tahun 2023 mulai menggaungkan pentingnya menjaga, memperkenalkan, dan mengangkat kawasan Liangkabori sebagai salah satu pusat peradaban manusia purba yang dimiliki Indonesia, bahkan dunia. Bersama masyarakat dan para pemuda desa, ia memulai langkah yang mungkin pada awalnya terlihat sederhana, namun sesungguhnya merupakan investasi besar bagi masa depan kebudayaan dan pariwisata Pulau Muna.
Dalam perjalanannya, gagasan tersebut kemudian mendapat dukungan dan kolaborasi dari Pemerintah Kabupaten Muna, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, serta berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap pelestarian sejarah dan budaya. Sinergi antara pemerintah desa, masyarakat, pemuda, dan pemerintah daerah inilah yang perlahan menjadikan Festival Liangkabori tumbuh sebagai agenda budaya yang semakin diperhitungkan.
Festival Liangkabori yang diselenggarakan secara konsisten selama empat kali berturut-turut, mulai dari tahun 2023 hingga pelaksanaan keempat pada 11 Juli 2026, menjadi bukti nyata komitmen tersebut. Di tengah berbagai tantangan dan keterbatasan, semangat untuk menjaga api festival ini tidak pernah padam. Konsistensi itulah yang pada akhirnya menjadi kekuatan terbesar.
Perjuangan panjang tersebut akhirnya mulai menunjukkan hasil. Pada 11 Juli 2026, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, hadir langsung di kawasan Gua Liangkabori dan secara resmi membuka Festival Liangkabori 2026. Kehadiran dan pembukaan langsung oleh Menteri Kebudayaan menjadi tonggak penting dalam perjalanan festival yang dirintis dari desa tersebut.
Bagi masyarakat Liangkabori, momen tersebut bukan sekadar seremoni pembukaan sebuah festival budaya, melainkan simbol pengakuan atas kerja panjang, konsistensi, dan komitmen yang selama ini dibangun oleh masyarakat bersama pemerintah desa, pemerintah daerah, dan berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap pelestarian warisan budaya bangsa.
Dalam sambutannya, Menteri Kebudayaan menegaskan pentingnya kawasan Liangkabori dalam sejarah peradaban manusia dunia. Pernyataan tersebut semakin mengukuhkan posisi Liangkabori sebagai salah satu situs budaya dan arkeologi yang memiliki nilai penting, tidak hanya bagi Kabupaten Muna dan Sulawesi Tenggara, tetapi juga bagi Indonesia dan komunitas ilmiah internasional.
Kepala Desa Liangkabori, La Ode Farlin, SH, menyebut kehadiran Menteri Kebudayaan merupakan buah dari konsistensi dan kerja bersama yang selama ini dibangun oleh masyarakat Liangkabori.
"Sejak awal kami hanya memiliki satu keyakinan, bahwa Liangkabori memiliki warisan besar yang layak dikenal dunia. Festival ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi merupakan ikhtiar untuk menjaga sejarah, memperkenalkan budaya, serta membuka masa depan pariwisata Pulau Muna," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kehadiran Menteri Kebudayaan pada Festival Liangkabori 2026 merupakan momentum penting bagi masa depan kawasan tersebut.
"Kehadiran Bapak Menteri Kebudayaan pada 11 Juli 2026 merupakan bentuk apresiasi sekaligus pengakuan terhadap upaya berkelanjutan yang dilakukan dalam menjaga dan mempromosikan warisan budaya Liangkabori, serta menjadi momentum penting untuk mendorong pengembangan kebudayaan, penelitian, dan pariwisata di Pulau Muna dan Sulawesi Tenggara," kata La Ode Farlin.
Ia berharap perhatian pemerintah pusat terhadap Liangkabori tidak berhenti pada sebuah kunjungan semata, melainkan dapat menjadi pintu masuk bagi penguatan pelestarian situs, peningkatan penelitian arkeologi, pembangunan infrastruktur pendukung, serta pengembangan pariwisata berbasis budaya di Pulau Muna.
Liangkabori sendiri menyimpan kekayaan arkeologi yang luar biasa. Di kawasan ini terdapat beragam lukisan cadas dengan rentang waktu yang berbeda-beda, menggambarkan perjalanan panjang kehidupan manusia dari masa ke masa. Salah satu yang paling mendapat perhatian dunia adalah lukisan cap tangan yang diperkirakan berusia sekitar 67.800 tahun, yang menjadikannya sebagai salah satu lukisan figuratif tertua yang diketahui hingga saat ini.
Tidak hanya itu, Liangkabori juga menyimpan jejak budaya lain berupa lukisan layang-layang yang diperkirakan berusia sekitar 4.000 tahun. Temuan tersebut seolah terhubung dengan tradisi masyarakat Muna yang masih bertahan hingga sekarang melalui permainan tradisional Kaghati Ro Kolope, layang-layang khas Muna yang seluruh bahannya dibuat dari unsur alam dan diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.
Di sinilah letak keistimewaan Liangkabori. Kawasan ini bukan sekadar ruang yang menyimpan jejak masa lalu, tetapi juga ruang yang memperlihatkan kesinambungan budaya dari manusia purba hingga masyarakat Muna hari ini.
Karena itu, ketika orang berbicara tentang Festival Liangkabori, sesungguhnya mereka tidak hanya berbicara tentang sebuah agenda tahunan. Mereka sedang berbicara tentang ketekunan sebuah desa, tentang keyakinan seorang kepala desa terhadap potensi daerahnya, tentang kolaborasi masyarakat dan pemerintah dalam menjaga warisan leluhur, serta tentang perjuangan panjang masyarakat Liangkabori dalam membawa jejak peradaban tersebut agar dikenal oleh Indonesia dan dunia