Gabungan Pemuda Makassar ( GPM ) Dukung Event Budaya Mangkasara' Molulo 2026
CELEBESNESIA.COM , MAKASSAR — Dukungan penuh mengalir untuk kesuksesan Kegiatan Budaya "Mangkasara’ Molulo 2026" yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus mendatang. Organisasi Gabungan Pemuda Makassar (GPM) secara resmi menyatakan sikap untuk mendukung pergelaran akbar tersebut. Pernyataan dukungan ini disampaikan langsung oleh Ketua Umum GPM, Kaharuddin Magassing Dg. Tiro, pada Senin, 6 Juli 2026.
Dalam komitmennya, GPM menyatakan kesiapan penuh untuk bersinergi dan berkolaborasi secara taktis dengan Angkatan Muda Bumi Anoa Sulawesi Tenggara (AMBA SULTRA). Langkah ini diambil sebagai bagian dari misi bersama dalam melestarikan sekaligus mempromosikan kekayaan budaya Nusantara, khususnya warisan leluhur di tanah Sulawesi.
Menautkan Bumi Sawerigading dan Bumi Anoa
Festival megah yang mengusung nilai sejarah tinggi ini diinisiasi oleh Ketua Umum AMBA SULTRA, Stenly Diover, S.T. Program ini menjadi bagian fundamental dari agenda "Bumi Anoa Nusantara Festival" yang bergerak di bawah naungan Yayasan AMBA SULTRA.
Menurut Stenly, tajuk "Mangkasara’ Molulo" dipilih bukan tanpa alasan, melainkan karena sarat akan filosofi moral yang mendalam bagi generasi muda. Kata Mangkasara’ merepresentasikan karakter ideal pemuda Sulawesi yang berjiwa besar, berani, jujur, serta teguh berpihak pada kebenaran. Sementara itu, Molulo diambil sebagai simbol sakral dari tarian persatuan dan semangat gotong royong kolektif. Melalui spirit "Jong Celebes Indonesia", festival ini diharapkan mampu menyatukan gelora semangat masyarakat dari ujung selatan Kepulauan Selayar hingga titik paling utara di Miangas.
Rangkaian acara akan diawali dengan agenda silaturahmi yang mempertemukan para Tokoh Adat Nusantara di Istana Kerajaan Gowa pada 28 Agustus 2026. Setela itu, kemeriahan festival akan mencapai puncaknya di Pantai Losari Makassar pada keesokan harinya.
Sinergi Lintas Sektor Berstandar Internasional
"Mangkasara’ Molulo 2026" dipastikan bakal naik kelas ke panggung internasional. Selain melibatkan para pegiat budaya lokal dari Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, festival ini juga akan dihadiri oleh delegasi internasional dari Malaysia yang tergabung dalam International Nusantara Cultural Forum (INCF).
Keberhasilan membawa narasi budaya lokal ke level global ini tidak lepas dari sinergi kuat berbagai lembaga strategis. Beberapa pihak yang terlibat aktif di antaranya adalah Forum Masyarakat Adat Konawe Mekongga Indonesia (FORMAKOM INDONESIA), Lembaga Adat Kerajaan Gowa, Divisi Mabes Kiwal Garuda Hitam MPW Sulawesi Selatan, Badan Kontak Organisasi Pemuda Mahasiswa Indonesia Sulawesi Tenggara (BAKOPMIST), Lembaga Pakarena Pusaka Leluhur Nusantara, serta didukung oleh Redaksi Sorotnews Indonesia dan Redaksi Tulisan Pers Sulsel.
Mahakarya "Delapan Pilar Budaya Sulawesi"
Sajian utama yang paling dinantikan dalam festival ini adalah pagelaran "Delapan Pilar Budaya Sulawesi". Panggung megah ini dirancang menjadi ruang dialog kultural yang harmonis, yang akan mempertemukan empat pilar utama dari Bumi Anoa (Tolaki, Buton, Muna, Moronene) dengan empat pilar utama dari Bumi Sawerigading (Makassar, Bugis, Mandar, Toraja).
Dengan keterlibatan para budayawan terkemuka, "Mangkasara’ Molulo 2026" diproyeksikan menjadi mercusuar baru bagi pelestarian tradisi. Lewat festival ini, pemuda Sulawesi membuktikan diri sebagai garda terdepan yang tidak hanya bangga akan akar sejarahnya, tetapi juga adaptif dan cakap dalam menjaga marwah tradisi di tengah tantangan zaman modern.