Gubernur Sultra Kenakan Busana Adat Motif Bhaladajha Karya Dewan Pembina AMBA Sultra pada Silaturahmi Akbar Masyarakat Muna

Budaya 21 Jul 2026 10:34 3 min read 498 views By La Ode Umar Zaid
Gubernur Sultra Kenakan Busana Adat Motif Bhaladajha Karya Dewan Pembina AMBA Sultra pada Silaturahmi Akbar Masyarakat Muna
Gubernur Sultra Kenakan Busana Adat Motif Bhaladajha Karya Dewan Pembina AMBA Sultra pada Silaturahmi Akbar Masyarakat Muna

KENDARI, Celebesnesia – Penampilan Gubernur Sulawesi Tenggara dalam balutan busana adat Muna pada Silaturahmi Akbar Masyarakat Muna, yang dirangkaikan dengan Pengukuhan Kerukunan Keluarga Muna (KKMM) serta penganugerahan gelar adat Sangia Mendono Witeno Bala dari Lembaga Adat Muna, menjadi salah satu daya tarik dalam rangkaian kegiatan tersebut.

Busana adat yang dikenakan Gubernur Sultra mengusung motif Bhaladajha, sebuah simbol budaya yang sarat makna filosofis dalam tradisi masyarakat Muna. Busana tersebut merupakan hasil rancangan Luckman Ikhsan, SH., MH., yang juga merupakan Dewan Pembina AMBA Sultra Bidang Ekonomi Kreatif.

Luckman Ikhsan merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN) di Sekretariat DPRD Kota Kendari yang bertugas sebagai Analis Keprotokolan DPRD. Di luar tugas kedinasannya, ia aktif sebagai penggiat budaya Muna, desainer busana adat, serta pelaku UMKM di bidang tenun dan pakaian adat yang konsisten mengangkat nilai-nilai kearifan lokal melalui karya-karyanya.

Selain itu, Luckman juga dipercaya mengemban berbagai amanah di organisasi adat dan kemasyarakatan, di antaranya sebagai Kepala Bidang Humas, Kelembagaan, Organisasi, dan Protokoler Majelis Adat Kerajaan Nusantara (MAKN) Muna, Humas Pemersatu Masyarakat Muna Indonesia (PMMI), serta memangku jabatan adat Kino Teweghu di lingkungan Kerajaan Muna.

Menurut Luckman, pemilihan motif Bhaladajha tidak hanya bertujuan menampilkan keindahan busana adat, tetapi juga menghadirkan pesan tentang nilai-nilai kepemimpinan yang diwariskan oleh para leluhur masyarakat Muna.

"Bhaladajha merupakan simbol kehormatan, martabat, dan kewibawaan. Di dalamnya terkandung pesan bahwa seorang pemimpin harus berlaku adil, bijaksana, bertanggung jawab, serta mampu mengayomi masyarakat. Nilai-nilai inilah yang ingin kami hadirkan melalui busana adat yang dikenakan Bapak Gubernur," ujar Luckman.

Ia menjelaskan, Bhaladajha melambangkan kehormatan dan harga diri seorang laki-laki Muna. Busana tersebut juga menggambarkan sosok pemimpin yang menjunjung tinggi tanggung jawab, keadilan, dan kebijaksanaan dalam mengemban amanah.

Filosofi tersebut berakar pada nilai-nilai luhur masyarakat Muna, yakni Pomae-massiaka (saling menyayangi), Pomae-maeka (saling menghormati), Popia-piara (saling memelihara), dan Poangka-angkataka (saling mengangkat martabat). Keempat prinsip itu menjadi pedoman hidup masyarakat Muna dalam membangun kehidupan yang harmonis.

Selain melambangkan kepemimpinan, Bhaladajha juga mencerminkan kesopanan, kedewasaan, keterbukaan, dan kejujuran. Dalam tradisi Muna, seorang pemimpin yang mengenakan busana tersebut diharapkan mampu menerima aspirasi masyarakat, menjunjung tinggi musyawarah, menegakkan hukum secara adil, serta mengayomi seluruh lapisan masyarakat.

Pada masa Kerajaan Muna, jumlah kancing dan ornamen pada Bhaladajha menjadi penanda kedudukan atau jabatan pemakainya. Dengan demikian, busana adat ini bukan sekadar pakaian seremonial, melainkan simbol identitas budaya yang merepresentasikan nilai-nilai kepemimpinan dan sistem sosial masyarakat Muna.

Makna tersebut semakin dipertegas melalui pemilihan warna. Warna kuning melambangkan kemuliaan, kebesaran, kewibawaan, kehormatan, serta kepemimpinan yang bermartabat dan identik dengan lingkungan kerajaan atau kaum Kaomu. Sementara warna biru melambangkan kebijaksanaan, ketenangan, kesetiaan, keteguhan hati, serta keluasan wawasan seorang pemimpin dalam menjaga keseimbangan dan kedamaian.

Luckman berharap karya yang ditampilkan pada momentum Silaturahmi Akbar Masyarakat Muna ini tidak hanya menjadi bagian dari prosesi adat, tetapi juga menjadi media edukasi untuk memperkenalkan filosofi budaya Muna kepada masyarakat luas.

"Budaya akan tetap hidup apabila terus dikenalkan, digunakan, dan diwariskan. Melalui karya ini kami ingin menunjukkan bahwa busana adat Muna bukan hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga menjadi simbol identitas, karakter, dan kebanggaan masyarakat Muna," tuturnya.

Sebagai organisasi yang memiliki komitmen terhadap pelestarian budaya dan pengembangan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal, AMBA Sultra mengapresiasi hadirnya karya anak daerah dalam momentum penting tersebut. Kehadiran busana adat rancangan Dewan Pembina AMBA Sultra diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus melestarikan warisan budaya sekaligus mengembangkan potensi ekonomi kreatif yang berakar pada identitas budaya daerah.

Recent Articles