"Jejak Ponggawa Karaeng Watukila: Merajut Persaudaraan Sejarah Kerajaan Konawe dan Gowa di Mangkasara’ Molulo"
CELEBESNESIA.COM , KONAWE , 06/07/2026 Aroma sejarah dan semangat persatuan kini tengah berpadu di tanah Sulawesi. Melalui helatan bertajuk "Mangkasara’ Molulo", dua wilayah besar, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, sepakat merajut kembali memori kolektif yang sempat tertidur lama. Bukan sekadar festival budaya, ajang ini adalah sebuah pernyataan sikap bahwa persaudaraan lintas daerah adalah fondasi utama pembangunan masa depan.
Menapaki Jejak Perjuangan Ponggawa Watukila
Di balik gemerlap persiapan acara, tersimpan narasi historis yang mendalam. Anakia Asrif Banasuru,salah satu dewan pendiri Forum Masyarakat Adat Konawe Mekongga ( FORMAKOM ) sekaligus Ketua Umum Tamalaki Wonua Konawe, mengungkapkan bahwa acara ini adalah upaya nostalgia perjuangan di masa silam.
Sejarah mencatat ikatan darah antara Kerajaan Konawe dan Kerajaan Gowa melalui sosok Ponggawa Watukila . Panglima Tamalaki kebanggaan masyarakat Konawe ini dulunya diasingkan ke Makassar bersama 12 Tamalakinya. Namun, semangat juangnya tak luntur. Di tanah rantau, Watukila justru bersinergi dengan Kerajaan Gowa untuk memukul mundur penjajah Belanda. Atas pengabdiannya, pemimpin Kerajaan Gowa menganugerahkan gelar kehormatan "Karaeng" kepadanya.
Kini, makam Ponggawa Karaeng Watukila di tanah Konawe telah ditetapkan sebagai cagar budaya sebuah monumen bisu yang mengingatkan generasi muda bahwa Sulawesi pernah, dan akan selalu, berjuang bersama.
Filosofi yang Menyatukan
Inisiator gerakan ini, Stenly Diover, S.T., Ketua Umum AMBA SULTRA, menjelaskan bahwa penamaan "Mangkasara’ Molulo" membawa beban moral bagi generasi penerus.
"Mangkasara" diartikan sebagai cerminan pemuda Sulawesi yang berjiwa besar, jujur, dan berani dalam kebenaran. Sementara "Molulo" adalah simbol sakral gotong royong yang meniadakan sekat. "Ini adalah ruh yang menyatukan semangat dari ujung selatan Selayar hingga titik utara Miangas," ujar Stenly.
Program ini merupakan pilar fundamental dari gerakan "Bumi Anoa Nusantara Festival" yang berada di bawah naungan Yayasan AMBA SULTRA, sebuah langkah strategis untuk memperkuat identitas "Jong Celebes Indonesia".
Panggung 8 Pilar Budaya
Puncak kemegahan perhelatan ini akan tersaji melalui penampilan "Delapan Pilar Budaya Sulawesi"**. Festival ini akan menjadi ruang dialog antarkebudayaan, di mana kekayaan tradisi akan melebur dalam satu orkestrasi yang harmonis:
1.Empat Pilar Bumi Anoa: Tolaki, Buton, Muna, dan Moronene.
2.Empat Pilar Bumi Sawerigading:Makassar, Bugis, Mandar, dan Toraja.
Standar Internasional dan Kolaborasi Masif
"Mangkasara’ Molulo" tidak lagi hanya bicara tentang skala lokal. Dengan menggandeng delegasi dari Malaysia melalui International Nusantara Cultural Forum (INCF), festival ini menunjukkan bahwa kekayaan budaya Sulawesi memiliki daya tarik global.
Keberhasilan acara ini juga didukung oleh sinergi solid berbagai elemen, termasuk Lembaga Adat Kerajaan Gowa, FORMAKOM INDONESIA, Divisi Mabes Kiwal Garuda Hitam MPW Sulsel, BAKOPMIST, serta berbagai organisasi pegiat budaya lainnya.
Perhelatan ini bukan sekadar perayaan sesaat, melainkan sebuah mercusuar bagi pelestarian tradisi. "Mangkasara’ Molulo" membuktikan bahwa pemuda Sulawesi adalah garda terdepan yang tidak hanya bangga akan akar sejarahnya, tetapi juga cakap dalam menavigasi perubahan zaman dengan nilai-nilai luhur yang terjaga.