LASKAR BORISALLO DEPPASAWI DUKUNG PENUH FESTIVAL MANGKASARA’ MOLULO 2026: SINERGI BUDAYA SULSEL DAN SULTRA MENUJU PANGGUNG INTERNASIONAL
CELEBESNESIA.COM , MAKASSAR — Dukungan penuh mengalir untuk kesuksesan perhelatan akbar Mangkasara' Molulo 2026 yang dijadwalkan berlangsung di Kabupaten Gowa dan Pantai Losari pada Agustus mendatang. Organisasi Laskar Borisallo Deppasawi Sulawesi Selatan secara resmi menyatakan komitmennya untuk mengawal dan menyukseskan festival kebudayaan lintas provinsi ini.
Pernyataan dukungan tersebut disampaikan langsung oleh Ketua Umum Laskar Borisallo Deppasawi, Idham Harun(09/07/2026) Beliau menegaskan bahwa Mangkasara' Molulo bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan sebuah wadah strategis untuk mempererat tali silaturahmi sekaligus membuka ruang kolaborasi kultural antara masyarakat Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.
Dalam keterangannya, Idham Harun menyatakan bahwa Laskar Borisallo Deppasawi siap membangun sinergi yang solid dengan Angkatan Muda Bumi Anoa Sulawesi Tenggara (AMBA SULTRA). Kemitraan ini dibangun atas dasar kesamaan visi untuk melestarikan dan mempromosikan kekayaan budaya Nusantara, dengan fokus utama pada warisan tradisi tanah Sulawesi.
Menautkan Bumi Sawerigading dan Bumi Anoa
Festival yang sarat akan nilai sejarah ini dirancang dalam rangkaian agenda yang khidmat. Momentum bersejarah akan diawali dengan pertemuan dan silaturahmi para Tokoh Adat Nusantara yang bertempat di Istana Kerajaan Gowa pada 28 Agustus 2026. Esok harinya, puncak kemeriahan festival akan bergeser dan menghentak ikon wisata Kota Makassar, Pantai Losari.
Inisiatif strategis ini lahir dari pemikiran Ketua Umum AMBA SULTRA, Stenly Diover, S.T. Festival ini menjadi bagian integral dari program fundamental "Bumi Anoa Nusantara Festival" yang bergerak di bawah naungan Yayasan AMBA SULTRA.
Stenly Diover mengungkapkan bahwa pemilihan tajuk "Mangkasara’ Molulo" membawa pesan filosofi moral yang sangat kuat bagi generasi muda saat ini. Kata "Mangkasara’" merepresentasikan karakter ideal pemuda Sulawesi yang berjiwa besar, berani, jujur, serta teguh berpihak pada kebenaran. Sementara "Molulo" diambil dari tarian persatuan yang menjadi simbol sakral dari semangat gotong royong dan kebersamaan kolektif. Melalui spirit "Jong Celebes Indonesia", festival ini mengemban misi besar untuk menyatukan gelora semangat masyarakat dari ujung selatan Kepulauan Selayar hingga titik paling utara di Miangas.
Sinergi Lintas Sektor Berstandar Internasional
Langkah Mangkasara’ Molulo 2026 dipastikan akan semakin mantap menuju panggung internasional. Selain melibatkan para pelaku dan pegiat budaya lokal dari Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, festival ini juga akan dihadiri oleh delegasi internasional asal Malaysia yang tergabung dalam International Nusantara Cultural Forum (INCF).
Kegiatann ini tidak lepas dari dukungan dan sinergi kuat dari berbagai lembaga strategis. Barisan kelembagaan yang menyatakan siap mengawal acara ini meliputi Forum Masyarakat Adat Konawe Mekongga Indonesia (FORMAKOM INDONESIA), Lembaga Adat Kerajaan Gowa, Divisi Mabes Kiwal Garuda Hitam MPW Sulawesi Selatan, hingga Badan Kontak Organisasi Pemuda Mahasiswa Indonesia Sulawesi Tenggara (BAKOPMIST). Tidak ketinggalan, dukungan juga mengalir dari Lembaga Pakarena Pusaka Leluhur Nusantara serta jejaring media dari Redaksi Sorotnews Indonesia dan Redaksi Tulisan Pers Sulsel.
Mahakarya "Delapan Pilar Budaya Sulawesi"
Sajian utama yang diprediksi akan mencuri perhatian publik dan para wisatawan adalah pagelaran mahakarya bertajuk "Delapan Pilar Budaya Sulawesi". Panggung ini akan bertransformasi menjadi ruang dialog kultural yang sangat harmonis. Pagelaran ini akan mempertemukan empat pilar utama dari Bumi Anoa—yaitu suku Tolaki, Buton, Muna, dan Moronene—dengan empat pilar utama dari Bumi Sawerigading, yang diwakili oleh kebudayaan Makassar, Bugis, Mandar, dan Toraja.
Dengan keterlibatan aktif para budayawan terkemuka, "Mangkasara’ Molulo 2026" diproyeksikan menjadi mercusuar baru dalam upaya pelestarian tradisi. Melalui perhelatan ini, generasi muda Sulawesi membuktikan diri bahwa mereka mampu berdiri di garda terdepan; tidak hanya bangga terhadap akar sejarah dan leluhurnya, tetapi juga adaptif serta cakap dalam menjaga marwah tradisi di tengah gempuran tantangan zaman modern.