Lembaga Adat Kerajaan Gowa Nyatakan Dukungan Penuh untuk "Mangkasara’ Molulo" di Pantai Losari
CELEBEBESNESIA.COM , MAKASSAR, 1 Juli 2026 – Semangat kolaborasi kebudayaan lintas daerah di Pulau Sulawesi semakin menguat menjelang perhelatan akbar "Mangkasara’ Molulo". Lembaga Adat Kerajaan Gowa secara resmi menyatakan dukungan penuh dan kesiapan untuk berpartisipasi menyukseskan festival budaya yang dijadwalkan berlangsung di Anjungan Pantai Losari, Makassar, pada 29 Agustus 2026 mendatang.
Dukungan tersebut disampaikan langsung oleh PYM Andi Muhammad Imam Daeng Situju bin Andi Kumala Idjo Daeng Sila Karaeng Lembang Parang Pati Matarang, selaku Raja Kerajaan Gowa ke-39.
Bagi PYM Andi Muhammad Imam Daeng Situju, festival ini merupakan manifestasi nyata dari kebangkitan budaya di Pulau Sulawesi yang digerakkan oleh inisiatif generasi muda. Ia menekankan bahwa perhelatan ini adalah momentum krusial untuk mempererat tali persaudaraan di tengah kemajemukan masyarakat.
"Ini adalah momentum penting untuk merajut persatuan pemuda-pemudi di Sulawesi. Kita menjadikan budaya sebagai benang pemersatu di tengah keberagaman budaya dan sosial masyarakat yang sangat majemuk," ujar Raja Gowa ke-39 tersebut.
Filosofi Penyatuan Bumi Sawerigading dan Bumi Anoa
"Mangkasara’ Molulo" sendiri merupakan inisiatif yang digagas oleh Ketua Umum AMBA Sultra, Stenly Diover, S.T. Acara ini merupakan bagian integral dari program kerja Bumi Anoa Nusantara Festival, di bawah naungan Yayasan Angkatan Muda Bumi Anoa Sulawesi Tenggara (AMBA SULTRA).
Stenly Diover menjelaskan bahwa tajuk "Mangkasara’ Molulo" membawa filosofi mendalam. "Mangkasara" merepresentasikan pemuda-pemudi Sulawesi yang berjiwa besar, berhati mulia, berani, dan jujur. Sementara itu, "Molulo" melambangkan semangat gotong royong dan kebersamaan untuk membangun Sulawesi, dari ujung selatan Kepulauan Selayar hingga ke ujung utara Miangas.
Acara ini dirancang sebagai wujud semangat kolaborasi "Jong Celebes Indonesia" dalam melestarikan warisan budaya dengan memadukan kekayaan seni lintas daerah dalam satu panggung megah.
Kolaborasi Lintas Lembaga dan Internasional
Selain melibatkan pegiat budaya lokal dari Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, festival ini juga akan menghadirkan delegasi dari Negeri Jiran, Malaysia, yang tergabung dalam International Nusantara Cultural Forum (INCF).
Sinergi besar ini turut melibatkan berbagai lembaga strategis, di antaranya:
1.Forum Masyarakat Adat Konawe Mekongga Indonesia (FORMAKOM INDONESIA)
2.Lembaga Adat Kerajaan Gowa
3.Divisi Mabes Kiwal Garuda Hitam MPW Sulawesi Selatan
4.Badan Kontak Organisasi Pemuda Mahasiswa Indonesia Sulawesi Tenggara (BAKOPMIST)
5.Lembaga Pakarena Pusaka Leluhur Nusantara
Panggung 8 Pilar Budaya Sulawesi
Mangkasara’ Molulo 2026 akan menampilkan kekayaan dari delapan pilar budaya yang menjadi jati diri Sulawesi, yakni empat pilar dari Bumi Anoa (Tolaki, Buton, Muna, dan Moronene) serta empat pilar dari Bumi Sawerigading (Makassar, Bugis, Mandar, dan Toraja).
Dengan hadirnya tokoh-tokoh budayawan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara , festival ini diharapkan mampu memberikan warna autentik dan memperkuat nilai sejarah dalam setiap rangkaian acaranya. Mangkasara’ Molulo diharapkan dapat menjadi mercusuar baru bagi pelestarian budaya di Pulau Sulawesi, sekaligus bukti bahwa pemuda adalah garda terdepan dalam menjaga marwah tradisi di masa depan.