Maharaja Kutai Mulawarman Dukung Penuh "Mangkasara’ Molulo 2026", Sebut sebagai Momentum Kebangkitan Budaya Sulawesi

Budaya 09 Jul 2026 19:39 3 min read 1,074 views By Redaksi Celebesnesia Makassar
Maharaja Kutai Mulawarman Dukung Penuh "Mangkasara’ Molulo 2026", Sebut sebagai Momentum Kebangkitan Budaya Sulawesi
Maharaja Kutai Mulawarman Dukung Penuh "Mangkasara’ Molulo 2026", Sebut sebagai Momentum Kebangkitan Budaya Sulawesi

CELEBESNESIA.COM ,JAKARTA- Sebuah momentum bersejarah bagi pelestarian adat nusantara bersiap menghentak panggung budaya nasional dan internasional. Gerakan pelestarian budaya kolaboratif yang mempertemukan kekayaan tradisi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara bertajuk "Mangkasara’ Molulo 2026" sukses mendapatkan dukungan penuh dari berbagai Tokoh Adat Nusantara.

Di antara deretan apresiasi tertinggi yang mengalir, dukungan paling signifikan datang langsung dari Duli Yang Maha Mulia Sri Paduka Baginda Berdaulat Agung Maharaja Kutai Mulawarman, Prof. Dr. M.S.P.A. Iansyah Rechza, FW., Ph.D.

Mercusuar Kebangkitan Tradisi di Tanah Sulawesi

Bagi Maharaja Kutai Mulawarman, pagelaran akbar ini bukan sekadar festival musiman, melainkan sebuah titik balik krusial bagi eksistensi adat. Sri Paduka Baginda menegaskan bahwa "Mangkasara’ Molulo 2026" adalah momentum emas bagi kebangkitan budaya di Sulawesi—sebuah jazirah yang sejak dulu dikenal memiliki masyarakat adat yang luar biasa kaya akan tradisi dan nilai-nilai warisan leluhur.

Secara khusus, Duli Yang Maha Mulia menaruh rasa hormat dan apresiasi yang sangat mendalam kepada para generasi muda yang menjadi motor penggerak di balik layar. Menurut Maharaja Kutai Mulawarman, inisiatif ini merupakan wujud nyata dan bukti autentik dari peran aktif pemuda-pemudi Sulawesi dalam menjaga serta melestarikan marwah budaya Nusantara agar tidak tergerus oleh derasnya arus modernisasi.

Menautkan Spirit Bumi Sawerigading dan Bumi Anoa

Festival visioner ini lahir dari ide strategis Ketua Umum AMBA SULTRA, Stenly Diover, S.T., yang mengemasnya sebagai bagian dari program fundamental "Bumi Anoa Nusantara Festival" di bawah naungan Yayasan AMBA SULTRA.

Stenly menjabarkan bahwa tajuk "Mangkasara’ Molulo" dipilih karena membawa pesan moral yang mendalam bagi generasi muda. Kata Mangkasara’ merepresentasikan karakter ideal pemuda Sulawesi yang berjiwa besar, berani, jujur, dan selalu berdiri tegak di atas kebenaran. Sementara Molulo menjadi simbol sakral dari persatuan, kebersamaan, dan semangat gotong royong kolektif. Dengan mengusung spirit "Jong Celebes Indonesia", festival ini diharapkan mampu merajut kembali tali persaudaraan dari ujung selatan Kepulauan Selayar hingga titik paling utara di Miangas.

Rangkaian acara bernilai sejarah tinggi ini dijadwalkan akan diawali dengan agenda silaturahmi para Tokoh Adat Nusantara di Istana Kerajaan Gowa pada 28 Agustus 2026, sebelum akhirnya mencapai puncak kemegahannya di Pantai Losari, Makassar, pada keesokan harinya.

Sinergi Lintas Sektor Menuju Panggung Internasional

Tidak tanggung-tanggung, perhelatan yang diberkahi oleh Maharaja Kutai Mulawarman ini dipastikan akan naik kelas ke kancah global. Selain melibatkan budayawan lokal dari dua provinsi, festival ini akan dihadiri langsung oleh delegasi internasional asal Malaysia yang tergabung dalam International Nusantara Cultural Forum (INCF).

Keberhasilan membawa narasi lokal ke level internasional ini terwujud berkat sinergi kokoh dari berbagai lembaga strategis. Di garda depan, pergerakan ini disokong penuh oleh Forum Masyarakat Adat Konawe Mekongga Indonesia (FORMAKOM INDONESIA), Lembaga Adat Kerajaan Gowa, serta Divisi Mabes Kiwal Garuda Hitam MPW Sulawesi Selatan. Kekuatan ini semakin solid dengan keterlibatan Badan Kontak Organisasi Pemuda Mahasiswa Indonesia Sulawesi Tenggara (BAKOPMIST), Lembaga Pakarena Pusaka Leluhur Nusantara, serta dukungan publikasi dari Redaksi Sorotnews Indonesia dan Redaksi Tulisan Pers Sulsel.

Mahakarya Delapan Pilar Budaya

Salah satu atraksi utama yang paling dinantikan dalam festival ini adalah pagelaran mahakarya "Delapan Pilar Budaya Sulawesi". Panggung ini akan menjadi ruang dialog kultural yang sangat harmonis, mempertemukan empat pilar utama dari Bumi Anoa, yaitu adat Tolaki, Buton, Muna, dan Moronene, dengan empat pilar utama dari Bumi Sawerigading, yakni Makassar, Bugis, Mandar, dan Toraja.

Melalui restu dari Duli Yang Maha Mulia Sri Paduka Baginda Berdaulat Agung Maharaja Kutai Mulawarman serta keterlibatan para budayawan terkemuka, "Mangkasara’ Molulo 2026" diproyeksikan menjadi mercusuar baru bagi pelestarian tradisi. Melalui perhelatan ini, pemuda Sulawesi sukses membuktikan diri sebagai garda terdepan yang tidak hanya bangga akan akar sejarahnya, tetapi juga adaptif dan cakap dalam menjaga kehormatan tradisi di tengah tantangan zaman.

Recent Articles