Mengikat Simpul Budaya: 'Mangkasara’ Molulo' Siap Menggetarkan Panggung Pantai Losari
CELEBESNESIA.COMMAKASSAR – 05/07/2026 , Kawasan Anjungan Pantai Losari, Makassar, bersiap menjadi saksi sejarah perhelatan budaya lintas provinsi yang monumental. Pada 29 Agustus mendatang, gelaran bertajuk "Mangkasara’ Molulo" akan hadir sebagai panggung pemersatu yang merajut semangat Bumi Sawerigading dari Sulawesi Selatan dan Bumi Anoa dari Sulawesi Tenggara dalam satu orkestrasi kebudayaan yang megah.
Solidaritas Lintas Lembaga
Dukungan penuh terhadap inisiatif ini datang dari berbagai elemen pegiat budaya, salah satunya Lembaga Pakarena Pusaka Leluhur Nusantara. Pendiri lembaga tersebut, Surianto Daeng Tayang (yang akrab disapa Anto Map Pakoe), menegaskan bahwa kegiatan ini adalah tonggak baru bagi kolaborasi lintas daerah di Sulawesi.
"Ini adalah gerakan semangat baru. Kami di Lembaga Pakarena Pusaka Leluhur Nusantara siap berpartisipasi total. Kami mengajak seluruh insan budaya untuk hadir dan meramaikan panggung kehormatan di Pantai Losari, negeri Anging Mamiri," seru Anto Map Pakoe penuh antusias.
Filosofi di Balik Nama "Mangkasara' Molulo"
"Mangkasara’ Molulo" bukanlah sekadar tajuk acara. Ketua Umum AMBA SULTRA sekaligus inisiator kegiatan, Stenly Diover, S.T., mengungkapkan bahwa nama ini mengandung esensi moral yang mendalam.
"Mangkasara" dimaknai sebagai representasi karakter pemuda Sulawesi yang berjiwa besar, jujur, dan berani. Sementara itu, "Molulo" hadir sebagai simbol sakral gotong royong—tarian persatuan yang melambangkan kebersamaan kolektif. Mengusung spirit "Jong Celebes Indonesia", festival ini dirancang sebagai jembatan yang menghubungkan semangat masyarakat dari pelosok Kepulauan Selayar hingga titik utara nusantara.
Menuju Pentas Internasional
Acara yang digagas oleh Yayasan AMBA SULTRA ini tidak hanya berhenti di level regional. Festival ini telah menetapkan standar tinggi dengan mengundang delegasi dari International Nusantara Cultural Forum (INCF) asal Malaysia. Kehadiran delegasi mancanegara ini menandai langkah strategis agar narasi kebudayaan Sulawesi kian dikenal di mata dunia.
Sinergi besar ini turut didukung oleh berbagai pemangku kepentingan strategis, di antaranya:
1.Forum Masyarakat Adat Konawe Mekongga Indonesia (FORMAKOM INDONESIA)
2.Lembaga Adat Kerajaan Gowa
3.Divisi Mabes Kiwal Garuda Hitam MPW Sulawesi Selatan
4.Badan Kontak Organisasi Pemuda Mahasiswa Indonesia Sulawesi Tenggara (BAKOPMIST)
5.Serta dukungan media dari Redaksi Sorotnews Indonesia dan Redaksi Tulisan Pers Sulsel.
Harmoni 8 Pilar Budaya
Puncak acara yang paling dinantikan adalah penampilan "Delapan Pilar Budaya Sulawesi". Ruang dialog kebudayaan ini akan mempertemukan keunikan empat pilar Bumi Anoa (Tolaki, Buton, Muna, dan Moronene) dengan keelokan empat pilar Bumi Sawerigading (Makassar, Bugis, Mandar, dan Toraja).
Perpaduan ini bukan sekadar tontonan estetis, melainkan ruang refleksi sejarah yang menegaskan bahwa pemuda Sulawesi adalah garda terdepan pelestarian tradisi. Dengan segala kemegahannya, "Mangkasara’ Molulo" diharapkan mampu menjadi mercusuar baru yang membuktikan bahwa marwah tradisi tetap teguh berdiri di tengah tantangan zaman.