Merawat Tradisi, Tamalaki Kalosara Mekongga Gelar "Meparakai Parewano Wonua" di Makam Sangia Nibandera
CELEBESNESIA.COM , KOLAKA – Dalam rangka menyambut malam 1 Muharram, Tamalaki Kalosara Mekongga (TKM) sukses menggelar kegiatan tahunan Meparakai Parewano Wonua (Mensucikan Pusaka Negeri) di kompleks Makam Sangia Nibandera, Kolaka.
Kegiatan sakral ini mengusung tema "Merawat dan Merangkul Persaudaraan dalam Bingkai Pusaka". Tradisi ini menjadi wadah bagi para pemilik benda pusaka untuk menyucikan dan memurnikan kembali senjata tradisional mereka, dengan harapan dapat memancarkan aura positif bagi pemiliknya maupun lingkungan sekitar.
Penyelenggaraan tahun ini mencatatkan antusiasme tinggi dari berbagai daerah. Tidak hanya diikuti oleh masyarakat dari Sulawesi Tenggara, kegiatan ini juga menarik perhatian kolektor serta pelestari pusaka dari luar wilayah Sulawesi Tenggara yang memiliki tujuan serupa.
Sejumlah organisasi pelestari budaya turut hadir memberikan dukungan, di antaranya Lembaga Pemuda Pelestari Senjata Tradisional (PUTERA) Sulawesi Tenggara, Tamalaki Wuta Mekongga Mepokoaso, Tamalaki Banggania Mekongga, Angkatan Muda Bumi Anoa (AMBA) Mekongga, dan Srikandi Amba Sultra (SAS).
Dewan Pendiri Tamalaki Kalosara Mekongga (TKM), Ardan Buburanda, menekankan bahwa kegiatan ini melampaui sekadar aspek ritual atau kesakralan semata.
"Dengan adanya acara ini, bukan hanya kita melihatnya dari segi kesakralannya, tetapi ini juga sebagai ajang silaturahmi antar organisasi pelestari budaya," ujar Ardan.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Umum TKM, Asdar Saido Latombongi, menyatakan bahwa sebagai pelopor organisasi Tamalaki di Bumi Mekongga, TKM berkomitmen menjaga marwah budaya.
"Kegiatan ini diharapkan menjadi contoh bagi organisasi serupa dalam menempatkan dan menghargai senjata tradisional, terutama sebagai pengingat sejarah perjuangan para leluhur dalam mempertahankan kedaulatan wilayahnya," tegas Asdar.
Sementara itu, Ketua Umum PUTERA Sultra, Bayu Dewa Lumanga, mengungkapkan apresiasinya atas konsistensi TKM dalam menyelenggarakan kegiatan ini.
"Ini sudah tahun kedua kami mengikuti kegiatan ini. Memang pusaka seharusnya diperlakukan khusus. Dahulu, pusaka digunakan sebagai alat perang, memiliki fungsi seremonial, hingga menjadi simbol status sosial. Kini, ia adalah warisan budaya takbenda nasional yang menjadi bagian penting dari identitas daerah kita," tutur Bayu.
Melalui Meparakai Parewano Wonua, diharapkan nilai-nilai luhur dari benda pusaka tidak sekadar menjadi artefak sejarah, namun tetap hidup dan relevan sebagai pengikat persaudaraan dan identitas bangsa di tengah modernisasi zaman.