PUTERA Dukung Penuh Mangkasara’ Molulo 2026, Momentum Merajut Persaudaraan Budaya Sulawesi

Budaya 27 Jul 2026 14:18 3 min read 169 views By La Ode Umar Zaid
PUTERA Dukung Penuh Mangkasara’ Molulo 2026, Momentum Merajut Persaudaraan Budaya Sulawesi
PUTERA Dukung Penuh Mangkasara’ Molulo 2026, Momentum Merajut Persaudaraan Budaya Sulawesi

KENDARI, Celebesnesia — Semangat kolaborasi budaya lintas daerah di Sulawesi terus menguat menjelang perhelatan Mangkasara’ Molulo 2026. Dukungan terhadap agenda yang mempertemukan kekayaan budaya Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara itu turut datang dari PUTERA (Lembaga Pelestari Senjata Tradisional Sulawesi Tenggara).

PUTERA menyatakan dukungan penuh terhadap terselenggaranya Mangkasara’ Molulo 2026. Bagi lembaga tersebut, kegiatan ini bukan sekadar agenda kebudayaan, melainkan ruang untuk memperkuat silaturahmi, merawat warisan leluhur, sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Sulawesi kepada generasi muda.

Ketua PUTERA, Bayu Dewa Lumanga, menilai Mangkasara’ Molulo memiliki arti penting karena membuka ruang perjumpaan bagi berbagai komunitas dan unsur kebudayaan di Sulawesi.

“Kami dari PUTERA mendukung penuh Mangkasara’ Molulo 2026. Bagi kami, kegiatan ini bukan hanya tentang pertunjukan seni, tetapi menjadi ruang silaturahmi dan persaudaraan budaya antarmasyarakat Sulawesi. Perbedaan budaya bukan alasan untuk berjalan sendiri-sendiri, tetapi menjadi kekayaan yang harus kita rawat melalui kolaborasi,” ujar Bayu.

Menurut Bayu, kekayaan budaya Sulawesi tidak hanya tercermin melalui seni pertunjukan. Di dalamnya terdapat berbagai warisan tradisi yang melekat dalam kehidupan masyarakat, mulai dari senjata tradisional, busana adat, kesenian, nilai kepemimpinan, hingga filosofi kehidupan masyarakat adat.

Karena itu, sebagai lembaga yang memiliki perhatian terhadap senjata tradisional Sulawesi Tenggara, PUTERA memandang pelestarian budaya harus dilakukan secara menyeluruh. Warisan leluhur tidak cukup hanya disimpan sebagai peninggalan sejarah, tetapi perlu dipahami nilai dan maknanya agar tetap relevan bagi generasi masa kini.

“Sebagai lembaga yang memiliki perhatian terhadap senjata tradisional, kami melihat bahwa pelestarian budaya harus dilakukan secara menyeluruh. Warisan leluhur, termasuk senjata tradisional, busana adat, kesenian dan nilai-nilai filosofinya harus terus dikenalkan kepada generasi muda. Kami berharap Mangkasara’ Molulo dapat menjadi gerakan budaya yang berkelanjutan dan memperkuat hubungan persaudaraan dari Bumi Anoa hingga Bumi Sawerigading,” tegas Bayu.

Dukungan tersebut menjadi semakin bermakna karena Mangkasara’ Molulo dirancang sebagai ruang kolaborasi yang mempertemukan delapan pilar budaya Sulawesi, yakni Tolaki, Buton, Muna dan Moronene dari Bumi Anoa, serta Makassar, Bugis, Mandar dan Toraja dari Bumi Sawerigading.

Pertemuan tersebut tidak sekadar menghadirkan keberagaman seni dan tradisi, tetapi juga membawa pesan tentang pentingnya membangun hubungan kebudayaan yang lebih erat antara Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan.

Semangat itu sebelumnya juga mendapat dukungan dari sejumlah tokoh dan lembaga kebudayaan, termasuk Lembaga Adat Tolaki, yang melihat Mangkasara’ Molulo sebagai momentum untuk memperkenalkan budaya Tolaki, khususnya Tari Molulo, sekaligus mempererat hubungan historis dan kultural antardaerah.

Bagi PUTERA, keterlibatan dalam agenda tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab bersama untuk memastikan warisan budaya tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu. Kebudayaan harus terus hidup, dipelajari, dikembangkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Di tengah perubahan zaman, Bayu menilai generasi muda memiliki peran penting dalam memastikan keberlanjutan kebudayaan. Mereka tidak hanya perlu menjadi penonton, tetapi juga harus diberi ruang untuk mengenal, menghidupkan dan mengembangkan warisan budaya daerahnya.

Mangkasara’ Molulo pun diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Lebih jauh, agenda ini diharapkan berkembang menjadi ruang kolaborasi berkelanjutan yang mempertemukan budayawan, seniman, lembaga adat, komunitas, generasi muda dan berbagai elemen masyarakat dalam satu semangat kebudayaan.

Festival tersebut dijadwalkan berlangsung di Anjungan Pantai Losari, Makassar, pada 29 Agustus 2026, dengan rangkaian silaturahmi budaya yang dimulai sehari sebelumnya.

Bagi PUTERA, dukungan terhadap Mangkasara’ Molulo 2026 merupakan bagian dari ikhtiar yang lebih besar: menjaga agar keberagaman budaya tidak menjadi sekat, melainkan menjadi jembatan persaudaraan.

Sebab, di balik beragam identitas budaya yang tumbuh di Sulawesi, terdapat satu semangat yang sama merawat warisan leluhur dan mewariskannya kepada generasi masa depan.

Dari Bumi Anoa untuk Bumi Sawerigading, dari warisan leluhur menuju generasi masa depan.

Recent Articles