PUTERA Sultra: Konsistensi Desa Liangkabori Sejak 2023 Jadi Kunci Keberhasilan ke Level Nasional
CELEBESNESIA.COM ,MUNA — Kehadiran Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, dalam pembukaan Festival Liangkabori IV Tahun 2026 menjadi babak baru bagi pariwisata Kabupaten Muna. Momentum tersebut langsung menuai respons positif dari kalangan aktivis pemuda dan mahasiswa di Sulawesi Tenggara, yang menilai Desa Liangkabori kini telah berhasil menembus panggung nasional.
Apresiasi mendalam salah satunya datang dari Pemuda Pelestari Senjata Pusaka Sulawesi Tenggara (PUTERA). Ketua Umum PUTERA,Bayu Dewa Lumanga, S.H., M.Kn. , secara khusus menyambangi kediaman Kepala Desa Liangkabori, La Ode Farlin, SH, pada Minggu (12/7/2026), guna menyampaikan dukungan langsung atas keberhasilan perhelatan budaya tersebut.
Konsistensi Sejak 2023 Jadi Kunci
Menurut Bayu Dewa Lumanga, lonjakan prestasi Desa Liangkabori merupakan buah dari komitmen panjang yang dirintis secara konsisten sejak tahun 2023. Agenda yang awalnya merupakan inisiatif lokal tingkat desa ini, kini telah bertransformasi menjadi salah satu instrumen promosi daerah paling strategis bagi Kabupaten Muna.
"Apa yang diperlihatkan oleh Kepala Desa bersama masyarakat Liangkabori adalah bukti konkret bagaimana desa mampu menjadi motor penggerak pelestarian budaya sekaligus pariwisata berbasis kearifan lokal," ujar Bayu.
Ia juga menambahkan bahwa menjaga konsistensi festival hingga tahun keempat bukanlah perkara mudah. Atensi langsung dari Kementerian Kebudayaan tahun ini menjadi validasi kuat bahwa kerja keras dari tingkat akar rumput mampu mengetuk perhatian pemerintah pusat.
Jejak Peradaban Dunia di Pulau Muna
Daya pikat Liangkabori di level nasional dinilai sangat wajar mengingat kawasan ini menyimpan aset historis global yang tak ternilai harganya bagi dunia akademik dan pariwisata, di antaranya:
Situs Liang Metanduno: Rumah bagi lukisan cadas purba yang diperkirakan telah berusia sekitar 67.800 tahun.
Situs Kaghati Ro Kolope: Menyimpan lukisan layang-layang purba berusia sekitar 4.000 tahun, yang menjadi bukti otentik bahwa permainan layang-layang tradisional berbahan alam masyarakat Muna merupakan salah satu yang tertua di dunia.
Melalui kekayaan prasejarah ini, Liangkabori tidak lagi sekadar menjadi urusan domestik Sulawesi Tenggara, melainkan kontribusi nyata Indonesia dalam menjaga lini masa peradaban dunia.
Di akhir kunjungannya, Bayu Dewa Lumanga berharap agar keberhasilan tata kelola di Liangkabori dapat diduplikasi oleh wilayah lain.
"Semoga capaian ini memicu inspirasi bagi desa-desa lain di Sultra, bahwa pembangunan yang berakar pada identitas dan kebudayaan lokal memiliki kekuatan besar untuk menggerakkan kemajuan daerah," pungkasnya.