Rajut Persatuan, Organisasi Sulawesi Bersatu Siap Kolaborasi di Festival Budaya Mangkasara’ Molulo 2026
Celebesnesia.com , Makassar – Semangat persatuan dan kebanggaan akan akar sejarah leluhur kembali menggelora di belahan selatan Sulawesi. Organisasi Sulawesi Bersatu secara resmi menyatakan dukungan penuh sekaligus kesiapannya untuk berkolaborasi dalam menyukseskan pergelaran budaya akbar, Kolaborasi Budaya Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara dalam Event Mangkasara' Molulo 2026. Festival kolosal ini dijadwalkan akan menghentak kawasan ikonik Anjungan Pantai Losari pada 29 Agustus mendatang.
Pernyataan dukungan tersebut disampaikan langsung oleh Ketua Umum Organisasi Sulawesi Bersatu, Hariantto Karaeng Tinggi. Guna mematangkan jalannya acara, jajaran Dewan Pengurus Organisasi Sulawesi Bersatu juga telah melakukan koordinasi intensif secara daring bersama Ketua Umum Angkatan Muda Bumi Anoa Sulawesi Selatan (AMBA SULTRA), Stenly Diover, pada Selasa (14/7/2026).
Menurut Hariantto Karaeng Tinggi, momentum ini merupakan titik balik kebangkitan kebudayaan Sulawesi sebagai identitas kolektif. Langkah ini dinilai sangat sejalan dengan visi dan misi Organisasi Sulawesi Bersatu yang senantiasa berkomitmen merajut kembali tali persaudaraan dan persatuan di antara masyarakat Sulawesi.
Jembatan Sejarah "Bumi Sawerigading" dan "Bumi Anoa"
Festival yang sarat akan nilai historis ini tidak hanya menjadi panggung seremonial, melainkan dirancang khusus sebagai jembatan emosional dan kultural. Misi utamanya adalah merekatkan kembali hubungan sejarah yang erat antara wilayah Bumi Sawerigading (Sulawesi Selatan) dan Bumi Anoa (Sulawesi Tenggara).
Inisiatif strategis ini lahir dari pemikiran Stenly Diover, yang menempatkan program ini sebagai bagian fundamental dari agenda besar "Bumi Anoa Nusantara Festival" di bawah naungan Yayasan AMBA SULTRA. Kehadiran event ini pun mendapat respons luar biasa, terbukti dengan mengalirnya dukungan penuh dari lebih dari 30 organisasi kemasyarakatan di kedua provinsi mulai dari organisasi masyarakat adat, kemahasiswaan, kepemudaan, hingga berbagai komunitas pelestarian budaya.
Rangkaian acara dijadwalkan akan dimulai secara resmi pada 28 Agustus 2026, ditandai dengan agenda silaturahmi hangat para Tokoh Adat Nusantara yang bertempat di Istana Kerajaan Gowa. Keesokan harinya, barulah puncak kemeriahan festival akan menyapa masyarakat luas di Pantai Losari.
Stenly Diover menjelaskan bahwa nama "Mangkasara’ Molulo" dipilih bukan tanpa alasan, melainkan karena memiliki muatan filosofi moral yang sangat dalam bagi generasi muda.
Kata "Mangkasara’" merepresentasikan karakter ideal pemuda Sulawesi yang berjiwa besar, berani, jujur, dan selalu berpihak pada kebenaran. Sementara "Molulo" merupakan simbol sakral dari tarian persatuan yang menggambarkan semangat gotong royong serta kebersamaan kolektif.
Melalui spirit "Jong Celebes Indonesia", festival ini diharapkan mampu memicu kembali gelora persatuan dari ujung selatan di Kepulauan Selayar hingga titik paling utara di Miangas.
Sinergi Lintas Sektor Menembus Panggung Internasional
Mangkasara’ Molulo 2026 dipastikan tampil beda dan naik kelas ke kancah internasional. Selain melibatkan para pegiat budaya lokal, acara ini akan dihadiri langsung oleh delegasi internasional dari Malaysia yang tergabung dalam International Nusantara Cultural Forum (INCF).
Langkah besar membawa narasi budaya lokal ke level global ini berhasil diwujudkan berkat sinergi kuat dari berbagai lembaga strategis. Pihak-pihak yang turut menyokong acara ini antara lain Forum Masyarakat Adat Konawe Mekongga Indonesia (FORMAKOM INDONESIA), Lembaga Adat Kerajaan Gowa, Divisi Mabes Kiwal Garuda Hitam MPW Sulawesi Selatan, Badan Kontak Organisasi Pemuda Mahasiswa Indonesia Sulawesi Tenggara (BAKOPMIST), dan Lembaga Pakarena Pusaka Leluhur Nusantara. Sinergi ini juga diperkuat oleh dukungan publikasi dari tim Redaksi Sorotnews Indonesia dan Redaksi Tulisan Pers Sulsel.
Mahakarya "Delapan Pilar Budaya Sulawesi"
Sajian utama yang paling dinantikan dalam festival ini adalah pagelaran mahakarya bertajuk "Delapan Pilar Budaya Sulawesi". Panggung ini akan menjadi ruang dialog kultural yang sangat harmonis karena mempertemukan empat pilar budaya utama dari Bumi Anoa—yaitu suku Tolaki, Buton, Muna, dan Moronene—dengan empat pilar budaya utama dari Bumi Sawerigading—yaitu suku Makassar, Bugis, Mandar, dan Toraja.
Dengan keterlibatan aktif para budayawan terkemuka, "Mangkasara’ Molulo 2026" digadang-gadang akan menjadi mercusuar baru bagi upaya pelestarian tradisi nusantara. Melalui festival berskala besar ini, pemuda Sulawesi ingin membuktikan diri bahwa mereka siap menjadi garda terdepan yang tidak hanya bangga akan akar sejarahnya, tetapi juga adaptif dan cakap dalam menjaga marwah tradisi di tengah tantangan zaman modern.