Tamalaki Kalosara Mekongga ( TKM ) Mendukung Penuh Kegiatan " Mangkasara' Molulo"
CELEBESNESIA.COM , KOLAKA – Gelombang pelestarian budaya di Sulawesi kembali menguat. Organisasi Masyarakat Adat Tamalaki Kalosara Mekongga (TKM) secara resmi menyatakan dukungan penuh terhadap perhelatan kolaborasi budaya bertajuk "Mangkasara’ Molulo 2026" yang dijadwalkan berlangsung di Kabupaten Gowa dan Kota Makassar pada akhir Agustus mendatang.
Dukungan tersebut ditegaskan langsung oleh Ketua Umum TKM, Asdar Saido Latombongi. Menurutnya, keterlibatan organisasi yang dipimpinnya merupakan langkah strategis untuk mengangkat budaya serta mempromosikan kekayaan khazanah budaya Sulawesi Tenggara, secara khusus adat istiadat Suku Tolaki, ke panggung yang lebih luas.
Sebagai entitas yang bernaung di bawah Forum Masyarakat Adat Konawe Mekongga (FORMAKOM), TKM berkomitmen untuk membangun sinergi lintas organisasi bersama Angkatan Muda Bumi Anoa Sulawesi Tenggara (AMBA SULTRA). Kolaborasi ini tidak hanya bertujuan melestarikan warisan leluhur, tetapi juga menjadi upaya aktif dalam mempromosikan budaya Nusantara di Sulawesi.
Menautkan Dua Bumi: Narasi Persatuan di Pantai Losari
Festival ini membawa visi besar untuk menghubungkan Bumi Sawerigading dan Bumi Anoa dalam satu ikatan silaturahmi. Rangkaian agenda akan dibuka secara khidmat melalui pertemuan tokoh adat Nusantara di Istana Kerajaan Gowa pada 28 Agustus 2026. Puncak kemeriahan kemudian akan berpindah ke Pantai Losari, Makassar, sehari setelahnya.
Inisiatif ini lahir dari pemikiran strategis Ketua Umum AMBA SULTRA, Stenly Diover, S.T., sebagai bagian dari program fundamental "Bumi Anoa Nusantara Festival" di bawah naungan Yayasan AMBA SULTRA.
Stenly menuturkan bahwa pemilihan tajuk "Mangkasara’ Molulo" bukan sekadar seremoni. Nama ini membawa beban filosofi moral yang mendalam bagi generasi muda. Mangkasara’ diartikan sebagai cerminan karakter pemuda Sulawesi yang berjiwa besar, berani, jujur, serta teguh membela kebenaran. Sementara Molulo disematkan sebagai simbol sakral persatuan dan semangat gotong royong kolektif. Mengusung spirit "Jong Celebes Indonesia", festival ini diharapkan mampu menjadi pemersatu semangat masyarakat dari ujung selatan Selayar hingga titik utara di Miangas.
Standar Internasional dan Sinergi Lintas Sektor
"Mangkasara’ Molulo 2026" dirancang untuk tampil beda dengan standar internasional. Kehadiran delegasi dari Malaysia yang tergabung dalam International Nusantara Cultural Forum (INCF) dipastikan akan menambah warna dalam dialog budaya tersebut.
Kesuksesan festival ini disokong oleh kolaborasi lintas lembaga yang solid. Beberapa institusi yang terlibat di antaranya FORMAKOM Indonesia, Lembaga Adat Kerajaan Gowa, Divisi Mabes Kiwal Garuda Hitam MPW Sulawesi Selatan, BAKOPMIST, serta Lembaga Pakarena Pusaka Leluhur Nusantara. Dukungan media pun hadir melalui Redaksi Sorotnews Indonesia dan Redaksi Tulisan Pers Sulsel yang mengawal narasi acara hingga ke publik.
Mahakarya Delapan Pilar Budaya
Salah satu sajian paling krusial dalam festival ini adalah pagelaran "Delapan Pilar Budaya Sulawesi". Panggung ini akan menjadi ruang dialog kultural yang mempertemukan empat pilar utama Bumi Anoa—yaitu Tolaki, Buton, Muna, dan Moronene—dengan empat pilar Bumi Sawerigading, yakni Makassar, Bugis, Mandar, dan Toraja.
Dengan menghadirkan para budayawan terkemuka, "Mangkasara’ Molulo 2026" diproyeksikan menjadi mercusuar baru dalam upaya pelestarian tradisi. Melalui perhelatan ini, pemuda Sulawesi ingin membuktikan bahwa mereka bukan sekadar pewaris sejarah, melainkan garda terdepan yang adaptif dalam menjaga marwah tradisi di tengah arus modernisasi yang kian menantang.