Dialog "Indonesia Emas" di Semarang Memanas, Budiman Sudjatmiko Cekcok dengan Mahasiswa
CELEBESNESIA.COM , SEMARANG – Suasana diskusi publik bertajuk "Indonesia Emas atau Cemas? Telaah Kritis Indonesia Hari Ini" yang digelar di Semarang mendadak tegang. Dialog yang menghadirkan Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) RI, Budiman Sudjatmiko, itu diwarnai aksi saling kritik tajam antara mahasiswa dan narasumber.
Ketegangan mencapai puncaknya saat mahasiswa mulai melayangkan pertanyaan kritis terkait posisi Budiman di pemerintahan. Ketua PMKRI Cabang Semarang, Bima Prayuda, menjadi pihak pertama yang mencecar Budiman mengenai perubahan haluan politik sang mantan aktivis.
"Apakah Bung Budiman masuk sistem dengan menjinakkannya, atau sistem yang menjinakkan Bapak?" tanya Bima di hadapan audiens.
Tidak lama berselang, suasana forum semakin memanas ketika Ketua HMI Komisariat FISIP Undip, Muhammad Rafli Susanto, ikut memberikan kritik. Rafli menyoroti pandangan Budiman terkait kondisi rakyat kecil, secara spesifik menyinggung kasus sengketa lahan petani Pundenrejo.
Saat diminta untuk memaparkan argumennya lebih dalam, Rafli justru memilih untuk meninggalkan forum dengan alasan hendak mengikuti agenda aksi demonstrasi. Keputusan Rafli memicu reaksi keras dari Budiman Sudjatmiko.
Dalam responsnya yang menjadi sorotan, Budiman menanggapi sikap mahasiswa tersebut dengan nada tegas. "Orang-orang tertarik dengan argumen Anda. Anda pernah dipenjara tiga bulan, bukan berarti Anda lebih hebat dan berhak untuk tidak menghormati forum ini. Anda bukan siapa-siapa. Silakan pergi," ujar Budiman di depan peserta diskusi.
Setelah pernyataan tersebut dilontarkan, Rafli pun beranjak meninggalkan lokasi acara, sementara jalannya diskusi tetap dilanjutkan dengan peserta lainnya.
Sepanjang sesi dialog, para mahasiswa memang tampak agresif dalam menguliti berbagai isu krusial. Selain mempertanyakan posisi Budiman, diskusi juga menyinggung masa depan visi Indonesia Emas 2045, masalah penyempitan ruang sipil, hingga kekhawatiran mengenai dugaan intervensi militer ke dalam ranah sipil.
Menanggapi berbagai kritik tersebut, Budiman Sudjatmiko memberikan penjelasan mengenai alasannya bergabung dengan pemerintahan saat ini. Ia menegaskan bahwa langkahnya masuk ke dalam sistem bukanlah bentuk "penjinakan" oleh kekuasaan, melainkan pilihan strategis untuk berjuang dari dalam.
Menurut Budiman, keterlibatannya dalam pemerintahan adalah upaya nyata untuk mendorong kebijakan negara agar lebih berpihak kepada masyarakat miskin. Ia berargumen bahwa perubahan fundamental dapat dilakukan secara lebih efektif melalui jalur kebijakan di dalam sistem yang ada.
Hingga acara berakhir, perdebatan antara narasi "Indonesia Emas" yang diusung pemerintah dan keresahan mahasiswa mengenai kondisi demokrasi serta keadilan sosial di lapangan tetap menjadi poin utama yang mewarnai jalannya dialog tersebut.