Mengenang KM Kerinci: Perjalanan Panjang Sang Legenda Penghubung Nusantara

Histori 16 Jun 2026 07:59 3 min read 282 views By Redaksi Celebesnesia Makassar
Mengenang KM Kerinci: Perjalanan Panjang Sang Legenda Penghubung Nusantara
Mengenang KM Kerinci: Perjalanan Panjang Sang Legenda Penghubung Nusantara

CELEBESNESIA.COM , MAKASSAR , Bagi masyarakat yang tumbuh besar dengan moda transportasi laut di Indonesia pada era 90-an hingga awal 2000-an, nama KM Kerinci tentu memiliki tempat tersendiri. Kapal ini bukan sekadar alat transportasi, melainkan urat nadi yang menghubungkan pulau-pulau di Nusantara, menjadi saksi bisu ribuan kisah perjalanan perantau, mahasiswa, hingga pedagang yang mengarungi lautan demi menyambung hidup.

Sejarah Singkat: Primadona Pelni di Perairan Indonesia

KM Kerinci merupakan salah satu kapal kebanggaan PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni). Dibuat di galangan kapal terkemuka di Jerman, Meyer Werft, pada tahun 1983, KM Kerinci hadir sebagai jawaban atas kebutuhan konektivitas antar-pulau yang masif di Indonesia.

Dengan kapasitas mencapai 2.000 penumpang, kapal ini menjadi salah satu armada terbesar yang dimiliki Pelni pada masanya. Selama puluhan tahun, KM Kerinci setia melayani rute-rute strategis, membelah ombak dari pelabuhan-pelabuhan besar di Sumatera, Jawa, hingga Indonesia Timur. Interiornya yang ikonik dan dek-dek luasnya menjadi rumah sementara bagi ribuan orang yang menempuh perjalanan berhari-hari melintasi samudra.

Akhir Perjalanan: Dilema Perawatan dan Penjualan

Seiring berjalannya waktu, dedikasi KM Kerinci mulai terbentur oleh realita usia dan efisiensi operasional. Pada tahun 2014, PT Pelni mengambil langkah sulit namun strategis. Mengingat kapal tersebut sudah tidak lagi beroperasi secara optimal dan justru membebani keuangan perusahaan, manajemen memutuskan untuk melepas armada legendaris ini.

Pada Rabu, 17 September 2014, Direktur Utama PT Pelni saat itu, Sulistyo Wimbo Hardjito, mengumumkan penjualan KM Kerinci dengan nilai Rp26,5 miliar.

"Ketiganya (KM Kerinci, KM Ganda Dewata, dan KM Caraka III/1) kami jual dengan harapan bisa mengurangi beban perawatan dengan nilai rata-rata per bulannya Rp1,5 miliar," ujar Wimbo saat itu.

Keputusan ini diambil bukan tanpa alasan. Sebagai kapal besar, KM Kerinci membutuhkan biaya perawatan yang sangat tinggi—mencapai ratusan juta rupiah per bulan—meskipun kapal dalam posisi tidak berlayar (menganggur). Biaya tersebut meliputi perawatan genset, penyediaan air tawar, hingga pengawasan teknis rutin agar kapal tidak rusak total.

Menuju Ujung Riwayat: Menjadi Besi Tua

Setelah terjual ke pihak usaha luar negeri, KM Kerinci resmi meninggalkan bendera Pelni. Harapan PT Pelni saat itu adalah meremajakan armada dengan membeli kapal jenis Roll-on/Roll-off (Ro-ro) yang lebih kecil dan efisien untuk fokus pada angkutan logistik, sejalan dengan perubahan pola distribusi barang di Indonesia.

Namun, bagi publik, penjualan tersebut menandai berakhirnya era keemasan KM Kerinci. Nasib kapal-kapal tua yang dijual ke pasar internasional—khususnya ke tangan pihak yang tidak lagi mengoperasikannya untuk penumpang—sering kali berakhir di galangan pemotongan kapal (ship breaking yard). Di sana, badan kapal yang megah itu dipotong-potong menjadi potongan besi, dilebur kembali, dan kehilangan identitas aslinya sebagai penghubung Nusantara.

KM Kerinci kini mungkin telah menjadi leburan besi tua, namun kenangan akan deru mesinnya dan keriuhan penumpang di atas geladaknya akan tetap abadi dalam catatan sejarah transportasi laut Indonesia. Ia adalah saksi nyata bahwa di tangan-tangan pelaut Indonesia, jarak antar-pulau bukanlah penghalang, melainkan jembatan menuju persatuan.

Recent Articles