BEM UHO Apresiasi Dedikasi Kepala Desa Liangkabori dalam Mengangkat Pariwisata dan Budaya hingga Tingkat Nasional

Pariwisata 13 Jul 2026 12:14 4 min read 630 views By La Ode Umar Zaid
BEM UHO Apresiasi Dedikasi Kepala Desa Liangkabori dalam Mengangkat Pariwisata dan Budaya hingga Tingkat Nasional
BEM UHO Apresiasi Dedikasi Kepala Desa Liangkabori dalam Mengangkat Pariwisata dan Budaya hingga Tingkat Nasional

LIANGGKABORI, CELEBESNESIA.COM – Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Halu Oleo (BEM UHO) memberikan apresiasi terhadap dedikasi dan konsistensi Kepala Desa Liangkabori, La Ode Farlin, SH, dalam mengembangkan sektor pariwisata dan pelestarian budaya hingga berhasil membawa nama Liangkabori mendapat perhatian di tingkat nasional.

Apresiasi tersebut disampaikan Ketua BEM UHO, Fitriyah Nurainun Natiq Mapatarani, saat berkunjung ke kediaman Kepala Desa Liangkabori pada Minggu (12/7/2026), sehari setelah pembukaan Festival Liangkabori IV Tahun 2026 yang secara resmi dibuka oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon.

Menurut Fitriyah, capaian yang diraih Liangkabori hari ini bukanlah sebuah proses yang terjadi dalam waktu singkat, melainkan hasil dari perjuangan panjang, konsistensi, dan komitmen yang terus dijaga oleh pemerintah desa bersama masyarakat dan para pemuda setempat sejak beberapa tahun terakhir.

Ia menilai, sejak pertama kali digelar pada tahun 2023, Festival Liangkabori telah berkembang menjadi lebih dari sekadar agenda budaya tahunan. Festival tersebut kini telah menjelma menjadi ruang promosi budaya, sejarah, dan pariwisata yang berhasil memperkenalkan Kabupaten Muna kepada masyarakat luas, bahkan hingga tingkat nasional.

"Apa yang dilakukan oleh Kepala Desa Liangkabori bersama masyarakat merupakan contoh nyata bagaimana desa dapat menjadi motor penggerak pelestarian budaya sekaligus pengembangan pariwisata berbasis kearifan lokal," ujar Fitriyah.

Menurutnya, konsistensi penyelenggaraan Festival Liangkabori selama empat tahun berturut-turut menunjukkan adanya visi jangka panjang dalam membangun desa melalui sektor budaya dan pariwisata.

"Tidak mudah menjaga keberlangsungan sebuah festival budaya hingga empat kali pelaksanaan secara berturut-turut. Dibutuhkan kepemimpinan, komitmen, serta kemampuan membangun kolaborasi dengan berbagai pihak. Kehadiran Menteri Kebudayaan Republik Indonesia pada Festival Liangkabori 2026 menjadi salah satu indikator bahwa upaya pelestarian budaya dan pengembangan pariwisata yang dilakukan dari daerah mampu memperoleh perhatian di tingkat nasional," katanya.

Fitriyah menambahkan bahwa keberhasilan menghadirkan Menteri Kebudayaan ke Liangkabori bukan hanya menjadi kebanggaan masyarakat Desa Liangkabori, tetapi juga masyarakat Kabupaten Muna dan Sulawesi Tenggara secara keseluruhan.

Baginya, momentum tersebut menunjukkan bahwa pembangunan desa berbasis budaya memiliki potensi besar untuk mendorong kemajuan daerah apabila dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan.

"Kehadiran Menteri Kebudayaan pada Festival Liangkabori 2026 merupakan bentuk apresiasi sekaligus pengakuan terhadap upaya berkelanjutan yang dilakukan dalam menjaga dan mempromosikan warisan budaya Liangkabori, serta menjadi momentum penting untuk mendorong pengembangan kebudayaan, penelitian, dan pariwisata di Pulau Muna dan Sulawesi Tenggara," lanjutnya.

Ia juga menilai bahwa pengembangan Liangkabori tidak hanya memberikan dampak terhadap sektor pariwisata, tetapi turut berkontribusi pada penguatan identitas budaya masyarakat Muna serta pelestarian warisan peradaban yang dimiliki daerah tersebut.

Keberadaan lukisan cadas di Liang Metanduno yang diperkirakan berusia sekitar 67.800 tahun, serta berbagai peninggalan budaya lainnya di kawasan Liangkabori, menurutnya merupakan aset besar yang harus dijaga dan dimanfaatkan secara bijaksana untuk kepentingan generasi mendatang.

Selain lukisan cap tangan yang menjadi perhatian dunia, kawasan Liangkabori juga menyimpan berbagai lukisan cadas lainnya dengan rentang waktu yang berbeda-beda, termasuk lukisan layang-layang yang diperkirakan berusia sekitar 4.000 tahun. Temuan tersebut memiliki keterkaitan dengan tradisi masyarakat Muna yang masih bertahan hingga saat ini melalui permainan tradisional Kaghati Ro Kolope, layang-layang khas Muna yang seluruh bahannya dibuat dari unsur alam dan diwariskan secara turun-temurun.

"Liangkabori hari ini tidak hanya berbicara tentang Muna atau Sulawesi Tenggara, tetapi juga tentang kontribusi Indonesia terhadap sejarah peradaban dunia. Karena itu, upaya pelestarian dan pengembangannya memerlukan dukungan dari seluruh elemen, mulai dari masyarakat, akademisi, pemerintah daerah, hingga pemerintah pusat," jelasnya.

Ia berharap perhatian pemerintah pusat terhadap Liangkabori dapat menjadi momentum untuk mempercepat pengembangan kawasan tersebut sebagai destinasi budaya, pendidikan, penelitian, dan pariwisata unggulan di Indonesia.

BEM UHO, lanjut Fitriyah, memandang bahwa keberhasilan Liangkabori menembus perhatian nasional merupakan bukti bahwa pembangunan desa berbasis budaya dan kearifan lokal memiliki potensi besar untuk mendorong kemajuan daerah apabila dikelola secara konsisten dan berkelanjutan.

"Kami mengapresiasi langkah dan dedikasi Kepala Desa Liangkabori dalam mengangkat potensi desa hingga dikenal secara nasional. Semoga capaian ini menjadi inspirasi bagi desa-desa lain bahwa pembangunan yang berangkat dari budaya dan identitas lokal dapat menjadi kekuatan besar bagi kemajuan daerah," pungkasnya.

Recent Articles