Ziarah ke Makam Sangia Dowo, Yonif TP 919 Bersama Tokoh Adat Moronene Kenang Perjuangan Leluhur
Ziarah ke Makam Sangia Dowo, Yonif TP 919 Bersama Tokoh Adat Moronene Kenang Perjuangan Leluhur
BOMBANA, CELEBESNESIA — Penghormatan terhadap sejarah dan perjuangan leluhur diwujudkan melalui kegiatan ziarah ke makam Raja Sangia Dowo di Toburi, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, Kamis (22/10/2026). Kegiatan ini dilaksanakan oleh personel Yonif TP 919/Sangia Dowo bersama tokoh adat dan pengurus AMBA Moronene.
Dalam kegiatan tersebut, Sapati Kerajaan Moronene Poleang, YM Mokole Patani Muh. Ali, turut mendampingi rombongan. Hadir pula Ketua AMBA Moronene, Mokole Muh. Aris Ali, bersama pengurus AMBA Moronene, Mbisi Mardiati Ali, serta pihak keluarga kerajaan dan perangkat adat lainnya.
Ziarah ini menjadi momentum untuk mengenang sosok Sangia Dowo, tokoh penting dalam sejarah Kerajaan Moronene Poleang yang dikenal melalui perjuangannya mempertahankan kehormatan kerajaan dan menentang kebijakan kolonial Belanda.
Mengenang Perjuangan Sangia Dowo
Dalam sejarah masyarakat Moronene, Sangia Dowo dikenang sebagai pemimpin yang berjuang mempertahankan hak masyarakat dan kedaulatan kerajaan dari tekanan pemerintah kolonial Belanda. Perlawanan tersebut berkaitan dengan kebijakan kolonial, termasuk kerja rodi dan pemungutan pajak yang membebani rakyat.
Kisah perjuangannya menjadi bagian penting dari ingatan kolektif masyarakat Moronene, sekaligus pengingat akan keberanian para leluhur dalam mempertahankan tanah, kehormatan, dan kehidupan masyarakatnya.
Makam Kuno Sangia Dowo yang berada di wilayah Toburi juga memiliki nilai sejarah dan budaya bagi masyarakat setempat. Keberadaannya menjadi penanda perjalanan panjang Kerajaan Moronene sekaligus warisan yang perlu dijaga agar tetap dikenal oleh generasi mendatang.
Ziarah dan Penghormatan terhadap Leluhur
Rangkaian kegiatan diawali dengan persiapan perlengkapan ziarah dan pengecekan personel Yonif TP 919/Sangia Dowo. Selanjutnya, rombongan bergerak menuju wilayah Toburi menggunakan kendaraan dinas.
Setibanya di lokasi, rombongan disambut oleh Sapati Kerajaan Moronene Poleang, pihak keluarga kerajaan, dan perangkat adat lainnya. Rombongan kemudian berjalan kaki menuju makam dengan membawa tunggul batalion sebagai simbol identitas satuan.
Prosesi dilanjutkan dengan tabur bunga dan doa bersama sebagai bentuk penghormatan kepada Sangia Dowo, leluhur yang memiliki tempat penting dalam sejarah masyarakat Moronene.
Sapati Kerajaan Moronene Poleang, YM Mokole Patani Muh. Ali, menyampaikan bahwa ziarah tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga penghormatan terhadap leluhur dan melestarikan ingatan sejarah kerajaan.
“Ziarah ini menjadi pengingat agar kita tidak melupakan sejarah dan jasa para pendahulu. Sudah menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaga peninggalan leluhur serta mewariskan nilai-nilai perjuangan kepada generasi muda,” ungkapnya.
Setelah prosesi ziarah, rombongan melanjutkan kunjungan dan silaturahmi bersama Raja Moronene ke-34. Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk mempererat hubungan antara jajaran TNI, keluarga kerajaan, tokoh adat, dan pengurus AMBA Moronene.
AMBA Moronene Dorong Pelestarian Sejarah
Ketua AMBA Moronene, Mokole Muh. Aris Ali, menilai kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran generasi muda terhadap sejarah dan identitas budaya daerah.
“Generasi muda harus mengenal sejarah leluhurnya. Perjuangan Sangia Dowo merupakan bagian dari warisan Moronene yang perlu terus dikenalkan, dihargai, dan dijaga agar tidak terputus dari generasi ke generasi,” ujarnya.
Ia berharap pelestarian sejarah tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi juga diwujudkan melalui kepedulian terhadap situs bersejarah, pendokumentasian kisah para leluhur, serta keterlibatan pemuda dalam menjaga adat dan budaya Moronene.
Kehadiran tokoh adat, pengurus AMBA Moronene, dan personel Yonif TP 919/Sangia Dowo menunjukkan pentingnya kolaborasi berbagai unsur masyarakat dalam menghormati sejarah dan merawat warisan leluhur.
Merawat Sejarah untuk Generasi Mendatang
Ziarah ke makam Sangia Dowo bukan sekadar tradisi penghormatan, melainkan juga pengingat akan pentingnya menjaga warisan sejarah sebagai bagian dari identitas masyarakat Moronene. Nilai keberanian, kehormatan, dan perjuangan mempertahankan hak masyarakat menjadi pelajaran yang relevan untuk diwariskan kepada generasi berikutnya.
Melalui kegiatan ini, penghormatan terhadap leluhur diharapkan dapat mempererat hubungan antara TNI dan masyarakat adat, sekaligus mendorong kepedulian bersama terhadap pelestarian situs bersejarah di Kabupaten Bombana.
Sejarah bukan sekadar kisah masa lalu, melainkan warisan perjuangan yang harus dijaga agar identitas, kehormatan, dan nilai-nilai luhur leluhur tetap hidup di tengah generasi mendatang.
Komentar (0)
Belum ada komentar.