Menyusuri Jejak Melayu di Tanah Buton Lewat Kisah Legendaris Mia Patamiana

Histori 23 Oct 2026 19:54 • 2 min read • 349 views • By Redaksi Celebesnesia Jakarta
Menyusuri Jejak Melayu di Tanah Buton Lewat Kisah Legendaris Mia Patamiana
Menyusuri Jejak Melayu di Tanah Buton Lewat Kisah Legendaris Mia Patamiana

Celebesnesia, Jakarta-Kekayaan sejarah Kesultanan Buton di Sulawesi Tenggara tidak lepas dari keterbukaannya terhadap berbagai kebudayaan di Nusantara. Salah satu pondasi terpenting dalam pembentukan identitas dan tatanan sosial masyarakat Buton adalah hadirnya rombongan Mia Patamiana, empat tokoh asal Semenanjung Melayu yang menorehkan jejak sejarah di Tanah Wolio sejak abad ke-13.

Secara harfiah dalam bahasa lokal Buton, Mia Patamiana berarti "Si Empat Orang". Berdasarkan naskah kuno dan tradisi lisan yang diwariskan secara turun-temurun, keempat figur perintis beretnis Melayu (Johor) tersebut adalah Sipanjonga, Simalui, Sitamanajo, dan Sijawangkati.

Kedatangan keempat tokoh ini menjadi tonggak awal lahirnya pemukiman dan tatanan masyarakat yang kelak berkembang menjadi Kerajaan hingga Kesultanan Buton.

Muka Baru Tanah Wolio dan Asal-usul Nama

Menurut catatan sejarah, rombongan Mia Patamiana mendarat di Pulau Buton dan membagi wilayah penjelajahan mereka. Dalam upaya membangun kawasan pemukiman, mereka bergotong royong menebang hutan dan membersihkan semak belukar.

Aktivitas pembukaan lahan dengan memotong kayu tersebut dalam istilah lokal dikenal dengan nama welia. Dari kata inilah diyakini asal-usul nama Wolio bermula wilayah yang di kemudian hari menjadi pusat peradaban, ibu kota Kesultanan, sekaligus benteng pertahanan terpenting di Buton.

Selain membuka lahan, Mia Patamiana juga membangun sistem pertahanan awal berupa benteng-benteng batu dan menegakkan tiang bendera (Longa-Longa) sebagai lambang kedaulatan wilayah mereka.

Pondasi Demokrasi dan Dewan Adat Walaka

Pengaruh Melayu yang dibawa oleh Mia Patamiana tidak hanya berhenti pada pembangunan fisik, tetapi juga merambah ke tatanan sosial dan politik. Dalam perkembangan Kesultanan Buton, keturunan dan pengikut Sipanjonga memegang peranan krusial sebagai kelompok Walaka.

Dalam struktur ketatanegaraan Kesultanan Buton yang terkenal demokratis, kelompok Walaka bertindak sebagai dewan adat atau parlemen. Mereka memiliki wewenang besar untuk menyusun tata tertib, mengawasi jalannya pemerintahan, hingga memilih dan menobatkan Sultan Buton.

Simbol Akulturasi Maritim Nusantara

Kisah Mia Patamiana menjadi bukti nyata bahwa kawasan pesisir Sulawesi Tenggara telah menjadi pusat akulturasi budaya Nusantara sejak ratusan tahun lalu. Perpaduan antara tradisi maritim Melayu, nilai-nilai lokal Buton, serta pengaruh dari Jawa (Majapahit) dan Tiongkok melahirkan suatu peradaban yang unik dan tangguh.

Hingga saat ini, warisan serta nilai-nilai kebersamaan yang ditinggalkan oleh Mia Patamiana tetap dihormati dan menjadi memori kolektif yang memperkaya identitas budaya masyarakat Buton.


Disusun Oleh:

Stenly Diover, ST

Kepatihan Bidang Informasi, Komunikasi & Humas Dewan Pengurus Pusat Majelis Adat Indonesia (DPP MAI )

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Recent Articles